Thursday, January 08, 2009
Thursday, December 04, 2008
My Name is.... Sung Eun Byung
Caranya :
1. Nama depan adalah angka terakhir pada tahun kelahiran kamu
Contoh:
1977 =7 = Lee
0: Park
1: Kim
2: Shin
3: Choi
4: Song
5: Kang
6: Han
7: Lee
8: Sung
9: Jung
2. Nama tengah adalah bulan kelahiran kamu
Contoh: Februari =2 = Ji
1: Yong
2: Ji
3: Je
4: Hye
5: Dong
6: Sang
7: Ha
8: Hyo
9: Soo
10: Eun
11: Hyun
12: Rae
3. Nama belakang adalah tanggal kelahiran kamu
Contoh: 23 = Ki
1: Hwa
2: Woo
3: Joon
4: Hee
5: Kyo
6: Kyung
7: Wook
8: Jin
9: Jae
10: Hoon
11: Ra
12: Bin
13: Sun
14: Ri
15: Soo
16: Rim
17: Ah
18: Ae
19: Neul
20: Mun
21: In
22: Mi
23: Ki
24: Sang
25: Byung
26: Seok
27: Gun
28: Yoo
29: Sup
30: Won
31: Sub
Friday, November 14, 2008
Sunday, October 12, 2008
Blog = Personal Diary??
Om saya, Guy Kawasaki, dulu pernah bilang, menulis di blog jangan seperti menulis di diary, tetapi menulislah seperti hendak menulis sebuah artikel atau buku, agar ada gunanya untuk siapapun yang membaca.
Kemudian, sesuai petunjuk om saya yang saya kagumi itu, akhirnya saya meniatkan diri untuk tidak menulis di blog, kecuali ada hal-hal yang bisa diambil manfaatnya oleh siapapun yang membaca.
Namuuuunnnnn…. Seperti biasa, segala hal yang sudah kita niatkan atau rencanakan, tidak selalu berjalan dengan mudah. Salah satu kesulitan terbesar adalah, terkadang ada buah pikiran yang akhirnya terwujud dalam bentuk tulisan yang ‘tidak layak baca’. Entah dalam bentuk keluhan, kesedihan, kemarahan, cemoohan, sindiran, umpatan, atau bahkan caci maki. Memformulasikan sesuatu yang negatif dalam kepala kita, menjadi sebuah tulisan yang bergizi tinggi, amatlah sulit. Memerlukan latihan seumur hidup.
Jadi, apakah ini berarti kita harus menulis yang baik2 saja di blog?
Well, here what I thought…
Menurut saya, tulisan di blog kita adalah salah satu cerminan dari siapa diri kita. Konon katanya, kebebasan berekspresi merupakan salah satu hak asasi manusia yang harus dijunjung tinggi-tinggi. Jadi pada dasarnya, for the sake of human rights, setiap orang berhak menulis apapun yang dia mau, baik ataupun buruk.
Tetapi…. Walaupun saya percaya bahwa dalam tulisan seburuk apapun selalu ada hal positif yang bisa diambil, tetap saja akan lebih bijak rasanya jika kita lebih berhati2 dalam menulis di blog. Apalagi jika tulisan2 kita termasuk kategori ‘tidak layak baca’. Terlebih lagi, udah masuk kategori ‘tidak layak baca’, masuk kategori ‘kebohongan publik’ pula.
Tuesday, September 30, 2008
Curhat di Akhir Ramadhan
“Tuhan menjanjikan keselamatan pendaratan, bukan ketenangan perjalanan.”
(peribahasa Bulgaria)
Hari ini adalah hari terakhir di bulan Ramadhan. Beberapa saat lagi, bulan yang mulia ini akan segera meninggalkan kita. Sejujurnya, saya gak tau apakah harus bergembira, lalu menyiapkan pesta dan bersuka ria merayakan “hari kemenangan”? Atau justru harus bersedih karena akan ditinggalkan bulan mulia yang penuh dengan obral pahala dan rahmat Allah SWT ini?
(FYI, para sahabat Rasulullah SAW menangis ketika mencapai ujung Ramadhan. Mereka takut dan khawatir tidak dapat berjumpa dengan Ramadhan lagi)
Yang jelas, bulan Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan yang paling berat dan melelahkan buat saya. Lahir dan bathin. Allah SWT memberi saya kehormatan, dengan memberikan ujian2 bertepatan dengan bulan Ramadhan tahun ini. Menguras sebagian besar energi saya.
Well, di saat saya belum tau sampai dimana ujung dari ujian2 ini, ada satu hal yang saya tau dengan pasti dan saya yakini : I will survive. Bagaimanapun skenario yang disiapkan Alllah buat saya, saya yakin akan bisa melaluinya. Saya harus bisa melaluinya. Sejauh yang saya tahu, Allah tidak pernah menjanjikan bahwa menjalani hidup (sesuai perintah-NYA) itu akan mudah. Allah juga tidak menjanjikan kemudahan hidup buat orang2 yang sepanjang hidupnya dihabiskan untuk beribadah kepada-NYA.
Tetapi, Allah menjanjikan bahwa sesungguhnya bersama kesulitan, ada kemudahan. Allah menjanjikan tempat yang mulia di sisi-NYA untuk orang2 yang bersabar. Allah menjanjikan satu tempat di surga untuk orang2 yang bisa bersikap ikhlas disaat ujian demi ujian menimpa mereka. Dan mesti diingat : gak seperti janji manusia, sesungguhnya janji Allah itu pasti.
Allah tidak akan memberikan begitu saja tiket masuk ke surga buat kita. Tiket itu hanya akan didapatkan oleh orang2 yang memang benar2 memperjuangkannya. Kita harus berjuang, sampai titik darah penghabisan, agar termasuk orang yang layak mendapatkan satu tiket idaman itu.
Friday, August 01, 2008
Menguak Luka Lama : Adam Air
Sunday, July 27, 2008
Bersediakah Kau Menikahimu?
Engga. Gak ada sedikit pun yang salah dalam kalimat judul di atas. Pun gak ada hubungannya dengan menuduh spesies manusia sebagai makhluk hermaphrodite :-p
Saya menemukan kalimat itu dalam salah satu artikel dalam buku berjudul “Satu Tiket ke Surga”.
Hmm… penulis kalimat ini mengajak kita berpikir tentang ‘sepak terjang’ kita selama ini, tingkah laku kita, kebiasaan2 kita, sifat2 kita, kemudian mengajak kita untuk berandai-andai :
Jika kamu berkenalan dengan seseorang (yaitu dirimu sendiri), yang memiliki karakteristik, tingkah laku dan semua sifat2 yang ada didirimu, bersediakah kamu menikahinya?
Interesting point of view, right? 
Jujur, kalimat itu ‘nonjok’ banget buat saya. ‘Nendang’ banget. ‘Mukul’ banget.
Karena waktu saya menanyakan kepada diri saya sendiri, “Bersediakah aku menikah denganku?”. Alih2 memberikan jawaban “iya” yang mantap, pikiran saya malah menjawab : "ehmm…gimana yaa…bersedia ngga yaa… ya udah bersedia deh." *pake kata ‘deh’ pula…sigh…*
Padahal, kepengennya saya sih, pertanyaan itu dijawab dengan “ya iya laahhh… pengen banggeeeettt….siapa juga gitchu lowh yang gak mau nikah sama cowok idaman seperti saya” *yang pengen muntah, sok muntah dulu aja* :-D
Well, kebanyakan orang akan menetapkan standar yang tinggi dalam menentukan kriteria pasangan hidup mereka. Kadang standar yang gak masuk akal malah.
Coba deh, masuk akal gak sih kalo seorang cewek mengidamkan seorang suami yang memiliki ketampanan seperti Nabi Yusuf, kekayaan seperti Nabi Sulaiman, kesabaran seperti Nabi Ayyub, dan keagungan akhlak seperti Rasulullah SAW?
Ok. Contohnya memang terlalu ekstrim. Tapi intinya sih begitu lah kira2.
Nah, ternyata… daripada disibukkan dengan ritual membuat daftar kriteria yang terlalu muluk, kenapa kita gak bercermin saja dulu pada tingkah laku kita dan sifat kita sekarang ini. Alangkah lebih baiknya kalau waktu yang kita punya kita gunakan untuk melakukan hal2 yang bisa mengubah jawaban kita dari “ehm, gimana ya” menjadi “iya banjjjeetttss”.
IMHO, ini adalah satu cara baru untuk melakukan refleksi diri, bermuhasabbah.
Dengan sedikit imajinasi, kita bisa memodifikasi kalimat/pertanyaan itu menjadi
“Bersediakah aku berteman denganku?”
“Maukah aku mencintaiku?”
atau
“Bersediakah aku mempunyai anak sepertiku?”
Saya rasa, dengan mengajukan pertanyaan2 seperti itu, (mudah2an) bisa menggerakkan kita untuk berubah dan mengubah apapun hal didalam diri kita yang tidak baik. Jika bukan kita yang mengubah perilaku kita sendiri, siapa lagi coba. Allah tidak akan mengubah kita jika kita sendiri menolak untuk mengubah perbuatan dan sifat2 kita. Semuanya terserah kita. Ubah diri kita sendiri, atau kalau tidak, kita tidak akan pernah berubah 



